A. Budaya
Organisasi Bisnis Dalam Islam
Organisasi
menurut Ernest Dale: suatu proses perencanaan yang meliputi penyusunan, pengembangan,
dan pemeliharaan suatu stuktur atau pola hubungan kerja dari orang-orang dalam
suatu kerja kelompok.
Organisasi
menurut Cyril Soffer: perserikatan orang-orang yang masing-masing diberi peran
tertentu dalam suatu system kerja dan pembagian dalam mana pekerjaan itu
diperinci menjadi tugas-tugas, dibagikan kemudian digabung lagi dalam beberapa
bentuk hasil.
Organisasi
culture (budaya organisasi) sekumpulan keyakinan dan nilai-nilai yang
mempengaruhi opini dan tindakan dalam organisasi. Memandang dari persepektif
pengembangan organisasi, budaya organisasi mengambarkan system social yang
berlaku dalam sebuah perubahan yang merangkum aspek-aspek kekuasaan atau
kepemimpinan, nilai, norma dan ganjaran. Nilai suatu organisasi sesungguhnya
mengacu pada standar nilai yang terutama berasal dari manajemen. Adapun norma,
lebih dengan aturan main (rule of the game) dalam organisasi. Sementara
ganjaran adalah sistem berikut makanisme reward dan punishment kepada yang
melaksanakan budaya organisasi. Kepemimpinan meniscayakan skill, sedangkan
nilai, norma, dan ganjaran akan melahirkan sistem bagi organisasi tersebut.
Budaya organisasi
yang kuat sangat berpengaruh terhadap keefektifan organisasi. Karena
keefektifan masyarakat bahwa budaya strategi, lingkungan dan tekhnologi sebuah
organisasi bersatu. Makin kuat budaya organisasi makin penting bahwa budaya
tersebut cocok dengan variable-variable tersebut.
Budaya
organisasi dalam praktek kegiatan sehari-hari dapat dilihat dalam empat
tingkatan yaitu:
1. Artifak,
yaitu hal-hal yang terlihat, terdengar dan terasakan ketika oleh seseorang dari
luar organisasi ketika memasuki organisasi tersebut yang sebelumnya tidak
dikenalnya.
2. Norma
dalam organisasi tampak dalam aturan-aturan tertulis maupun kesepakatan tidak
tertulis. Di dalamnya mengandung arahan positif dan sanksi terhadap pelanggaran
dalam organisasi.
3. Nilai-nilai
yang ada dalam organisasi yang menjadi daya tarik sehingga orang di luar
organisasi tersebut tertarik untuk masuk ke dalamnya. Secara umum nilai-nilai
inilah yang menjadi akar dari budaya organisasi, utamanya bila nilai-nilai
inilah yang mejadi akar dari budaya organisasi, utamanya bila nilai-nilai yang
dimaksudkan didukung oleh anggota kelompok.
4. Asumsi-asumsi
dari keyakinan yang dianggap sudah ada olah anggota organisasi. Asumsi-asumsi
ini seringkali tidak tertulis atau terucapkan. Asumsi dan keyakinan yang kuat
akan muncul antar lain dalam praktik manajemen yang tertata baik. Sebaliknya,
manajemen sebuah organisasi yang kurang tertata mencerminkan asumsi atau
keyakinan yang tidak kuat, sehingga budaya organisasinya juga kurang jelas.
Bagi anggota, keyakinan, asumsi, dan berbagai persepsi organisasi tercermin
dalam perasaan dan pikiran mereka terkait dengan organisasinya.
|
Artifak
|
|
Norma
|
|
Nilai-nilai
|
|
Keyakinan &
asumsi
|
Keyakinan, persepsi, pikiran dan
perasaan
Sebuah organisasi yang
birokratis memiliki stuktur dan proses kerja yang jelas dan tidak dapat diubah
segera. Hal ini dirancang untuk mengatur pola hubungan yang baku dan formal:
1.
Mementingkan efisien
2.
Menekankan rasionalitas
3.
Teratur dan berjenjang
4.
Menurut adanya kepatuhan dari
pihak-pihak di bawah pimpinan
B.
Nilai-nilai islam dalam budaya
organisasi
Budaya
organisasi dibangun dengan seperangkat nilai yang diyakini oleh semua perilaku
dalam organisasi itu. Islam sebagai salah satu sumber tata nilai juga mempunyai
nilai-nilai yang dapat digunakan sebagai pembangunan budaya organisasi yang
kuat. Nilai-nilai dalam organisasi juga diperlukan untuk mengikat manajer dan
semua orang dalam organisasi tersebut dalam suatu kesatuan yang utuh.
Bagi
seorang manajer muslim, nilai yang dipandang paling benar adalah nilai yang
bersumber dari ajaran agamanya, yaitu Islam. Bagaimanapun, sebuah organisasi
akan sehat bila dikembangkan dengan nilai-nilai sehat yang bersumber dari
agama.
Beberapa
nilai yang dipandang penting dalam pembangunan mental seorang muslim dalam
berorganisasi adalah ikhlas, jamaah dan amanah. Secara rinci ketiga nilai
tersebut beserta detail uraian menyangkut budaya organisasi akan dijelaskan
sebagai berikut:
1.
Ikhlas
Ikhlas
merupakan sikap dasar khas seorang muslim segala tindakannya yang dilakukan
selalu bertujuan untuk mencapai ridho Allah. Seorang muslim yang ikhlas adalah
yang melakukan segala kewajibannya dengan maksimal tanpa niat untuk dipuji,
dihargai atau hanya ingin dilihat orang. Dalam hal amal keagamaan kebalikan
ikhlas adalah riya’, yaitu melakukan amal ibadah karena tujuan ingin dilihat
orang.
Dalam
organisasi makna ikhlas adalah melakukan kewajiban dengan sekuat tenaga dan
usaha terbaik dengan niat bersih. Beberapa penghasilan yang didapat dari
organisasi. Orang yang ikhlas adalah orang yang melaksanakan kewajiban secara
maksimal. Atau dengan kata lain,pegawai itu melaksanakan pekerjaannya dengan
sebaik-baiknya, dengan atau tanpa diawasi atasannya. Etos kerja seorang muslim
yang dikemukakan oleh Hafifuddin adalah sebagai berikut:
a.
Al-Ahslah atau baik dan bermanfaat
Seorang
muslim yang berparagma ikhlas akan memandang bahwa segala perbuatan yang
dilakukan adalah untuk beribadah. Bekerja juga merupakan amal saleh jika
dikerjakan dengan ikhlas. Seorang muslim yang ikhlas juga akan berusaha untuk
menjadi orang yang bisa memberikan manfaat bagi orang lain sebagai bagian dari
amal sholeh. Allah berfirman dalam surah an-Nahl 97:” barangsiapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan
dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan
yang baik, dan sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala
yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”.
b.
At-Itqan atau kesempurnaan
Dalam
sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Thabrani nabi bersabda:”sesungguhnya Allah sangat mencintai jika seorang melakukan sesuatu
pekerjaan yang dilakukannya dengan itqan/sempurna (profesional)”
Dari
sabda ini dapat disimpulkan bahwa kesempurnaan adalah salah satu tujuan yang
harus jadi prioritas setiap muslim dalam menyelesaikan tugasnya. Keikhlasan
seorang muslim dengan demikian bukan berarti dia bisa menjalankan pekerjaannya,
atau yang penting jadi.
c.
Al-Ahsan atau melakukan yang terbaik dan
lebih baik lagi
Kualitas
ikhsan mempunyai dua makna dan pesan, yaitu:
a)
Melakukan yang terbaik dari apa yang
dapat dilakukan dengan makna ini pengertiannya sama dengan al-itqan. Pesan yang
dikandungnya antara lain agar setiap muslim memiliki komitmen terhadap dirinya
untuk berbuat yang terbaik dalam segala hal yang ia kerjakan, apalagi untuk
kepentingan umat.
b)
Mempunyai makna yang lebih baik dari
prestasi atau kualitas pekerjaan sebelumnya. Makna ini memberikan pesan
peningkatan terus-menerus seiring dengan bertambahnya pengetahuan, pengalaman,
waktu da sumber daya lainnya.
d.
Al- Mujahadah atau kerja keras dan
optimal
Dalam
hal kesungguhan ini Allah berfirman:”dan
orang-orang yang berijtihad untuk (untuk mencari keridhoan) kami, benar-benar
kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami, dan sesungguhnya Allah
benar-benar beserta orang-orang yang
berbuat baik.”(QS. Al-Ankabut:69).
e.
Al-Tanafus dan Ta’awum atau bekerjasama
dan tolong menolong
Dalam
hal ini Allah berfirman:”dan tolong menolonglah
kamu dalam (mengerjakan) kebijakan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam
perbuatan dosa dan pelanggaran dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya
Allah amat berat siksa-Nya”.(QS. Al-maidah:2).
Allah
juga berfirman:”dan orang-orang yang
beriman, laki-laki, perempuan, sebagian yang lain, mereka menyuruh
(menegrjakan) yang ma’ruf, mencegah dari orang munkar,mendirikan shalat, dan
menunaikan zakatdan mereka taat pada Allah dan Rasulnya. Mereka itu akan diberi
rahmat oleh Allah: sesungguhnya Allah maha perkasa lagi maha bijkasana”
f.
Mencerminkan nilai waktu
Rasulullah
menjelaskan bahwa waktu adalah suatu yang sangat berharga yang diabaikan.
Rasulullah memberi contoh sebagaimana beliau menyikapi ketepatan waktu,
kemudian diikuti oleh para sahabat beliau. Akhirnya, para sahabat menyadari dan
terbiasa menghargai waktu. Dalam hadits riwayat Imam Baihaqi, Rasulullah
bersabda:”siapkanlah lima sebelum
datangnya lima. Masa hidupmu sebelum datangnya matimu, masa sehatmu sebelum
datang sakitmu, masa sesunggumu sebelum datang masa masa sibukmu, masa mudamu
sebelum datang masa tuamu, dan masa kayamu sebelum datang masa miskinmu”.
(HR.Baihaqi dari Ibu Abbas).
Selain
membentuk etos kerja, sifat ikhlas juga akan menghindarkan seorang dari sifat
tamak dan kikir, karena seorang berpandangan hidup ikhlas hatinya tidak akan
terpaut dengan harta atau kekayaan. Seperti penipuan dan riba, yang keduanya
dikutuk oleh Allah.
2.
Amanah
Nilai
sentral dalam membangun budaya organisasi adalah konsep amanah. Amanah merupakan
sikap tanggungjawab terhadap tugas yang diberikan, atau dengan kata lain ia
menginginkan memenuhi sesuatu sesuai dengan ketentuan.
Dalam
organisasi atau manajemen, konsep manajemen ini sangatlah penting, karena
setiap orang yang ada dalam organisasi pada dasarnya adalah memegang tugas dan
wewenang menyangkut kinerja organisasi. Sikap amanah akan menjadikan pemegang
tanggung jawabdalam organisasi menjalankan tugasnya dengan penuh dedikasi dan
tanggung jawab, bahkan Jalaluddin menganggap amanah sebagai basis atau dasar
dalam manajemen dasar.
a.
Shiddig atau kejujuran
Dalam
organisasi atau dalam ruang sosial apapun kejujuran sikap terpuji mutlak
diperlukan. Sesorang muslim yang jujur akan selalu mendasarkan perbuatan pada
ajaran islam. Tidak ada kontradiksi antara ucapan dan perbuatan. Karena itu
Allah senantiasa memerintah kita untuk selalu bersama orang yang benar (jujur).
Allah berfirman:”hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan
hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar”.(QS. At-taubat:119).
Dalam
dunia kerja, kejujuran di tampilkan dalam bentuk kesungguhan dan ketetapan
janji, waktu, pelaporan, pelayanan, mengakui kekurangan dan kelemahan (tidak
menutup-nutupi) serta menjauhkan diri dari perbuatan bohong dan menuju baik
pada teman sejawat atau atasan.
b.
Fathanah
Berarti
mengerti, memahami dan menghayati segala hal yang menyangkut tugas dan pekerja
atau karyawan harus tahu persis apa tugas dan kewajiban. Lebih lanjut sifat ini
akan menimbulkan kreatifitas dan inovasi hanya mungkin dimiliki ketika seorang
selalu berusaha menambah berbagai macam ilmu pengetahuan, peraturan dan
informasi baik yang berhubungan dengan pekerjaan maupun perusahaan secara umum.
3.
Jamaah atau kolektivitas
islam
adalah agama jamaah yang lebih mementingkan kebersamaan daripada kesendirian
atau individualisme. Dari ibadah hingga muamalah dari sholat murni hingga
ibadah social menegaskan karakter dan watak kolektivitas Islam. Secara
sederhana sholat berjamaah nilai pahalanya lebih tinggi daripada shalat sendirian
dan Allah sangat menyukai barisan pejuang terorganisir secara rapi, Allah
berfirman:”sesungguhnya Allah menyukai
orang berperang dijalannya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka
seperti sesuatu bangunan yang tersusun kokoh”.(QS. Al-Shaf:4)
Dalam
konteks organisasi, budaya kolektif atau budaya jama’ah yang menjadi karakter
Islam ini dapat diimplementasikan dalam bentuk solidaritas antar anggota
organisasi atau antara karyawan.
Jika
budaya kolektif ini telah terbangun, maka selanjutnya suasana kekeluargaan akan
tercipta dengan sendirinya. Hubungan antara bawahan dan atasan, atau karyawan
yang satu dengan yang lainnya tidak seperti hubungan formal yang kaku, tapi
yang lebih seperti hubungan keluarga yang hangat. Antara satu karyawan dan
lainnya dalam suatu organisasi yang diisi oleh orang yang mempunyai kesatuan
hati akan menjadi jamaah yang kuat. Bukankah saat kaum muslimin sedang bimbang
menghadapi perang Badar Allah berfirman untuk meyakinkan bahwa orang-orang yang
satu hati akan menjadi kuat “dan jika mereka bermaksud menipu, maka
sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi pelindung). Dialah yang memperkuatmu
dengan pertolongannya dan dengan para mukmin. Walaupun kamu membelanjakan semua
kekayaan yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati
mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya dia
maha bijaksana”.
dalam
konteks organisasi, kesatuan hati ini juga pada gilirannya akan menimbulkan
rasa memiliki, sence of belonging, pada diri karyawan. Rasa ikut memiliki
inilah yang diperlukan untuk memacu semangat dan prosuktivitas karyawan.
Dalam
tataran praktis pembinaan rasa kebenaran dan kekeluargaan dapat dilakukan
dengan berbagai cara diantaranya:
a)
Melakukan haququl muslim (hak-hak semua
muslim). Dalam hadis hak itu ada lima, yaitu jika berjumpa ucapkan salam, jika
diundang datanglah, jika meminta nasehat nasehatilah, jika ia sakit jenguklah
dan terakhir jika ia meninggal antar jenazahnya sampai ke kubur.
b)
Melakukan tausyiah atau saling
menasehati.
c)
Menghubungkan silaturahmi.
d)
Mengadakan islah atau rekonsiliasi jika
suatu ketika terjadi masalah atau retak hubungan.
e)
Ta’awum atau saling bantu dan saling
tolong.
f)
Menjauhi akhlak tercela dalam
berinteraksi, misalnya menggunjing, mengolok, mengejek, dan lain-lain.
C.
Pengertian
Etos Kerja
Etos berarti pandangan hidup yang khas
dari suatu golongan sosial. Kata kerja berarti
usaha,amal, dan apa yang harus dilakukan (diperbuat).Etos
berasal dari bahasa Yunani (etos) yang memberikan arti sikap, kepribadian,
watak, karakter, serta keyakinan atas sesuatu. Sikap ini tidak saja dimiliki
oleh individu, tetapi juga oleh kelompok bahkan masyarakat . Dalam kamus besar
bahasa Indonesia etos kerja adalah semangat kerja yang menjadi ciri khas dan
keyakinan seseorang atau suatu kelompok.Kerja dalam arti pengertian luas adalah semua bentuk usaha
yang dilakukan manusia, baik dalam hal materi, intelektual dan fisik, maupun
hal-hal yang berkaitan dengan keduniaan maupun keakhiratan. berdasarkan pengertian tersebut dapat
dipahamkan bahwa semua usaha manusia baik yang dilakukan oleh akal, perasaan,
maupun perbuatan adalah termasuk ke dalam kerja. Contohnya, beribadah, berdoa,
belajar, berolah raga, bekerja, bertani, dan berdagang.
Adapun pengertian kerja secara khusus, yakni yang biasa
dipakai dalam dunia ketenagakerjaan dewasa ini, adalah setiap potensi yang
dikeluarkan manusia untuk memenuhi tuntutan hidupnya, berupa makanan, pakaian
tempat tinggal, dan peningkatan taraf hidup. Dari pengertian kerja khusus
tersebut, yang dimaksud dengan kerja hanyalah usaha-usaha untuk kepentingan
duniawi semata.Contohnya bertani, berdagang, dan mengolah kekayaan alam.
Dalam bahasa Arab, kerja disebut amila. Menurut Dr. Abdul Aziz, di dalam kitab suci Alquran terdapat
620 kata’amila (kerja) dengan segala
bentuknya (menurut Ilmu Bahasa Arab). Hal itu menunjukkan bahwa masalah “kerja”
harus mendapat perhatian yang sungguh-sungguh dari setiap umat manusia,
khususnya umat Islam.
Selain itu, di dalam Alquran kata amila(kerja) sering didahului dengan kata’amanuu atau ‘amanuu (beriman).
Ini menunjukkan bahwa seseorang yang beriman (mukmin) harus membuktikan imannya
dengan amal (kerja), yakni perbuatan-perbuatan yang baik yang diridai
Allah.Allah swr berfirman yang berarti, “Dan
Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan
mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan
mereka berkuasa di bumi.”(Q.S.An Nur,24 : 55)
D. Hakekat
Etos Kerja dalam Islam
Ethos berasal
dari bahasa Yunani yang berarti sikap, kepribadian, watak, karakter serta
keyakinan atas sesuatu. Sikap ini tidak saja dimiliki oleh individu, tetapi
juga oleh kelompok bahkan masyarakat. Ethos dibentuk oleh berbagai kebiasaan,
pengaruh, budaya serta sistem nilai yang diyakininya. Dari kata etos ini
dikenal pula kata etika yang hamper mendekati pada pengertian akhlak atau
nilai-nilai yang berkaitan dengan baik buruk moral sehingga dalam etos tersebut
terkandung gairah atau semangat yang amat kuat untuk mengerjakan sesuati secara
optimal lebih baik dan bahkan berupaya untuk mencapai kualitas kerja yang
sesempurna mungkin. Dalam al-Qur’an dikenal kata itqon yang berarti proses
pekerjaan yang sungguhsungguh, akurat dan sempurna. (An-Naml : 88). Etos kerja
seorang muslim adalah semangat untuk menapaki jalan lurus, dalam hal mengambil
keputusan pun, para pemimpin harus memegang amanah terutama para hakim. Hakim
berlandaskan pada etos jalan lurus tersebut sebagaimana Dawud ketika ia diminta
untuk memutuskan perkara yang adil dan harus didasarkan pada nilai-nilai kebenaran,
maka berilah keputusan (hukumlah) di antara kami dengan adil dan janganlah kamu
menyimpang dari kebenaran dan tunjuklah (pimpinlah) kami ke jalan yang lurus
(QS. Ash Shaad : 22).
E. Etika
Kerja dalam Islam
Rasulullah SAW
bersabda, “Sesungguhnya Allah mencintai salah seorang diantara kamu yang
melakukan pekerjaan dengan itqon (tekun, rapi dan teliti).” (HR. al-Baihaki)
Dalam memilih seseorang ketika akan diserahkan tugas, rasulullah melakukannya
dengan selektif. Diantaranya dilihat dari segi keahlian, keutamaan (iman) dan
kedalaman ilmunya. Beliau senantiasa mengajak mereka agar itqon dalam bekerja.
Sebagaimana dalam awal tulisan ini dikatakan bahwa banyak ayat al-Qur’an
menyatakan kata-kata iman yang diikuti oleh amal saleh yang orientasinya kerja
dengan muatan ketaqwaan. Penggunaan istilah perniagaan, pertanian, hutang untuk
mengungkapkan secara ukhrawi menunjukkan bagaimana kerja sebagai amal saleh
diangkatkan oleh Islam pada kedudukan terhormat. Pandangan Islam tentang
pekerjaan perlu kiranya diperjelas dengan usaha sedalamdalamnya. Sabda Nabi SAW
yang amat terkenal bahwa nilai-nilai suatu bentuk kerja tergantung pada niat
pelakunya. Dalam sebuah hadits diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Rasulullah
bersabda bahwa “sesungguhnya (nilai) pekerjaan itu tergantung pada apa yang
diniatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Tinggi rendahnya
nilai kerja itu diperoleh seseorang tergantung dari tinggi rendahnya niat. Niat
juga merupakan dorongan batin bagi seseorang untuk mengerjakan atau tidak
mengerjakan sesuatu. Nilai suatu pekerjaan tergantung kepada niat pelakunya
yang tergambar pada firman Allah SWT agar kita tidak membatalkan sedekah (amal
kebajikan) dan menyebutnyebutnya sehingga mengakibatkan penerima merasa
tersakiti hatinya. “ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan
(pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si
penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya Karena riya kepada manusia
dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian…” (al-Baqarah : 264) Keterkaitan
ayat-ayat di atas memberikan pengertian bahwa taqwa merupakan dasar utama
kerja, apapun bentuk dan jenis pekerjaan, maka taqwa merupakan petunjuknya.
Memisahkan antara taqwa dengan iman berarti mengucilkan Islam dan aspek
kehidupan dan membiarkan kerja berjalan pada wilayah kemashlahatannya sendiri.
Bukan kaitannya dalam pembangunan individu, kepatuhan kepada Allah SWT serta
pengembangan umat manusia. Perlu kiranya dijelaskan disini bahwa kerja
mempunyai etika yang harus selalu diikut sertakan didalamnya, oleh karenanya
kerja merupakan bukti adanya iman dan barometer bagi pahala dan siksa.
Hendaknya setiap pekerjaan disampung mempunyai tujuan akhir berupa upah atau
imbalan, namun harus mempunyai tujuan utama, yaitu memperoleh keridhaan Allah
SWT. Prinsip inilah yang harus dipegang teguh oleh umat Islam sehingga hasil
pekerjaan mereka bermutu dan monumental sepanjang zaman. Jika bekerja menuntut
adanya sikap baik budi, jujur dan amanah, kesesuaian upah serta tidak
diperbolehkan menipu, merampas, mengabaikan sesuatu dan semenamena, pekerjaan
harus mempunyai komitmen terhadap agamanya, memiliki motivasi untuk menjalankan
seperti bersungguh-sungguh dalam bekerja dan selalu memperbaiki muamalahnya.
Disamping itu mereka harus mengembangkan etika yang berhubungan dengan masalah
kerja menjadi suatu tradisi kerja didasarkan pada prinsip-prinsip Islam. Adapun
hal-hal yang penting tentang etika kerja yang harus diperhatikan adalah sebagai
berikut:
1. Adanya
keterkaitan individu terhadap Allah, kesadaran bahwa Allah melihat, mengontrol
dalam kondisi apapun dan akan menghisab seluruh amal perbuatan secara adil
kelak di akhirat. Kesadaran inilah yang menuntut individu untuk bersikap cermat
dan bersungguh-sungguh dalam bekerja, berusaha keras memperoleh keridhaan Allah
dan mempunyai hubungan baik dengan relasinya. Dalam sebuah hadis rasulullah
bersabda, “sebaik-baiknya pekerjaan adalah usaha seorang pekerja yang
dilakukannya secara tulus.” (HR Hambali).
2. Berusaha
dengan cara yang halal dalam seluruh jenis pekerjaan. Firman Allah SWT: “Hai
orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang kami
berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya
kamu menyembah.” (al-Baqarah: 172).
a. Dilarang
memaksakan seseorang, alat-alat produksi atau binatang dalam bekerja, semua
harus dipekerjakan secara professional dan wajar.
b. Islam
tidak membolehkan pekerjaan yang mendurhakai Allah yang ada kaitannya dengan
minuman keras, riba dan hal-hal lain yang diharamkan Allah.
Professionalisme
yaitu kemampuan untuk memahami dan melakukan pekerjaan sesuai dengan
prinsip-prinsip keahlian. Pekerja tidak cukup hanya memegang teguh sifat
amanah, kuat dan kreatif serta bertaqwa tetapi dia juga mengerti dan
benar-benar menguasai pekerjaannya. Tanpa professionalisme suatu pekerjaan akan
mengalami kerusakan dan kebangkrutan juga menyebabkan menurunnya produktivitas
bahkan sampai kepada kesemrautan manajemen serta kerusakan alat-alat produksi.
KESIMPULAN
Islam sebagai agama dan sumber etika
telah menyumbangkan berbagai macam konsep mengenai berbagai aspek kehidupan,
termasuk dalam organisasi. Budaya organisasi yang merupakan implementasi dari
nilai-nilai yang dianut oleh orang-orang dari suatu organisasi juga dapat
dibangun dengan menggunakan nilai-nilai Islam. Seperti halnya konsep ikhlas,
amanah, dan jama’ah, ketiganya bersumber dari ajaran islam. Namun tidak banyak
organisasi di negeri ini yang menggunakannya, malah dalam prakteknya beberapa
nilai tersebut telah dipraktekkan oleh organisasi di luar islam.
Nilai-nilai
luhur terkandung dalam ajaran islam tersebut memang tidak seharusnya hanya
menjadi hiasan dalam kajian-kajian ilmiah atau bumbu dalam retorika-retorika
para dai dan pejabat. Namun ironis, umat islam di negeri ini banyak yang
menganggap nilai-nilai islam hanya sebatas ilmu, diketahui tetapi tidak
dijalankan dengan baik.
Dalam
kehidupan berorganisasi, konsep-konsep dan nilai-nilai yang bersumber dari
agama, utamanya Islam juga masih ditanggapi sebelah mata. Tak banyak organisasi
yang para pendiri dan pengolahnya beragama islam, memahami apalagi
mempraktekkan nilai-nilai islam dalam menjalankan roda organisasi.
Namun
kecenderungan studi para intelektual islam belakangan ini cukup mengembirakan.
Nilai-nilai islam sudah mulai muncul sebagai alternative perspektif dalam
melihat organisasi, atau minimal sebagai konsep pembanding dari konsep
organisasi yang bersumber dari budaya Eropa atau Barat. Organisasi yang dengan
terang-terangan menyatakan dan mempraktekkan budaya organisasi berdasarkan
nilai-nilai islam juga ada, misalnya Bank Mandiri Syariah dengan budaya
sifatnya siddig, istighomah, amanah, fathonah, dan tabligh. Alhasil
konsep-konsep tradisi seputar organisasi dan segala macam turunannya hanya akan
menjadi kajian di lembaga pendidikan, tanpa menemukan bentuk konkritnya dalam
realitas, jika kita para pelaku organisasi tidak mau mengamalkannya.
DAFTAR PUSTAKA
Husni,Muhammad.2014.Membangun Budaya Organisasi Dalam Perspektif Nilai-Nilai Islam.98-113.
Hasan,Fikri Putra.2013.Konsep Budaya Organisasi Secara Islami. https://fikrimochammad.wordpress.com/2012/12/11/konsep-budaya-organisasi-secara-islami.3
April.
Anonim.1997. Konsep dan etika kerja dalam Islam.
Jakarta:Almadani.
Anonim.1990.Mengangkat Kualitas Hidup Umat. Jakarta:
Dirjen BIMAS Islam.
Tasmara,Toto.2008.Membudayakan Etos Kerja. Jakarta:Gema Insani.
Mizan.1998.Wawasan al-Qur’an. Jakarta: Quraish Shihab.
[13] Mizan, Wawasan
al-Qur’an, Quraish Shihab : Jakarta, 1998
Disusun oleh:
Dela Safitri
Rospita Rahayu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar