Minggu, 30 Juni 2019

Budaya Organisasi Bisnis Dalam Islam Dan Etos Kerja


A.  Budaya Organisasi Bisnis Dalam Islam
Organisasi menurut Ernest Dale: suatu proses perencanaan yang meliputi penyusunan, pengembangan, dan pemeliharaan suatu stuktur atau pola hubungan kerja dari orang-orang dalam suatu kerja kelompok.
Organisasi menurut Cyril Soffer: perserikatan orang-orang yang masing-masing diberi peran tertentu dalam suatu system kerja dan pembagian dalam mana pekerjaan itu diperinci menjadi tugas-tugas, dibagikan kemudian digabung lagi dalam beberapa bentuk hasil.
Organisasi culture (budaya organisasi) sekumpulan keyakinan dan nilai-nilai yang mempengaruhi opini dan tindakan dalam organisasi. Memandang dari persepektif pengembangan organisasi, budaya organisasi mengambarkan system social yang berlaku dalam sebuah perubahan yang merangkum aspek-aspek kekuasaan atau kepemimpinan, nilai, norma dan ganjaran. Nilai suatu organisasi sesungguhnya mengacu pada standar nilai yang terutama berasal dari manajemen. Adapun norma, lebih dengan aturan main (rule of the game) dalam organisasi. Sementara ganjaran adalah sistem berikut makanisme reward dan punishment kepada yang melaksanakan budaya organisasi. Kepemimpinan meniscayakan skill, sedangkan nilai, norma, dan ganjaran akan melahirkan sistem bagi organisasi tersebut.
Budaya organisasi yang kuat sangat berpengaruh terhadap keefektifan organisasi. Karena keefektifan masyarakat bahwa budaya strategi, lingkungan dan tekhnologi sebuah organisasi bersatu. Makin kuat budaya organisasi makin penting bahwa budaya tersebut cocok dengan variable-variable tersebut.
Budaya organisasi dalam praktek kegiatan sehari-hari dapat dilihat dalam empat tingkatan yaitu:
1.    Artifak, yaitu hal-hal yang terlihat, terdengar dan terasakan ketika oleh seseorang dari luar organisasi ketika memasuki organisasi tersebut yang sebelumnya tidak dikenalnya.
2.    Norma dalam organisasi tampak dalam aturan-aturan tertulis maupun kesepakatan tidak tertulis. Di dalamnya mengandung arahan positif dan sanksi terhadap pelanggaran dalam organisasi.
3.    Nilai-nilai yang ada dalam organisasi yang menjadi daya tarik sehingga orang di luar organisasi tersebut tertarik untuk masuk ke dalamnya. Secara umum nilai-nilai inilah yang menjadi akar dari budaya organisasi, utamanya bila nilai-nilai inilah yang mejadi akar dari budaya organisasi, utamanya bila nilai-nilai yang dimaksudkan didukung oleh anggota kelompok.
4.    Asumsi-asumsi dari keyakinan yang dianggap sudah ada olah anggota organisasi. Asumsi-asumsi ini seringkali tidak tertulis atau terucapkan. Asumsi dan keyakinan yang kuat akan muncul antar lain dalam praktik manajemen yang tertata baik. Sebaliknya, manajemen sebuah organisasi yang kurang tertata mencerminkan asumsi atau keyakinan yang tidak kuat, sehingga budaya organisasinya juga kurang jelas. Bagi anggota, keyakinan, asumsi, dan berbagai persepsi organisasi tercermin dalam perasaan dan pikiran mereka terkait dengan organisasinya.
Artifak
                                            Struktur dan proses dalam organisasi

Norma
                                                     Peraturan dalam organisasi

Nilai-nilai


 

                                                 Filosofi, tujuan dan strategi organisasi
Keyakinan & asumsi
                                                                                                                                                           
                                                               Keyakinan, persepsi, pikiran dan perasaan
                

Sebuah organisasi yang birokratis memiliki stuktur dan proses kerja yang jelas dan tidak dapat diubah segera. Hal ini dirancang untuk mengatur pola hubungan yang baku dan formal:
1.    Mementingkan efisien
2.    Menekankan rasionalitas
3.    Teratur dan berjenjang
4.    Menurut adanya kepatuhan dari pihak-pihak di bawah pimpinan
B.  Nilai-nilai islam dalam budaya organisasi
Budaya organisasi dibangun dengan seperangkat nilai yang diyakini oleh semua perilaku dalam organisasi itu. Islam sebagai salah satu sumber tata nilai juga mempunyai nilai-nilai yang dapat digunakan sebagai pembangunan budaya organisasi yang kuat. Nilai-nilai dalam organisasi juga diperlukan untuk mengikat manajer dan semua orang dalam organisasi tersebut dalam suatu kesatuan yang utuh.
Bagi seorang manajer muslim, nilai yang dipandang paling benar adalah nilai yang bersumber dari ajaran agamanya, yaitu Islam. Bagaimanapun, sebuah organisasi akan sehat bila dikembangkan dengan nilai-nilai sehat yang bersumber dari agama.
Beberapa nilai yang dipandang penting dalam pembangunan mental seorang muslim dalam berorganisasi adalah ikhlas, jamaah dan amanah. Secara rinci ketiga nilai tersebut beserta detail uraian menyangkut budaya organisasi akan dijelaskan sebagai berikut:
1.    Ikhlas
Ikhlas merupakan sikap dasar khas seorang muslim segala tindakannya yang dilakukan selalu bertujuan untuk mencapai ridho Allah. Seorang muslim yang ikhlas adalah yang melakukan segala kewajibannya dengan maksimal tanpa niat untuk dipuji, dihargai atau hanya ingin dilihat orang. Dalam hal amal keagamaan kebalikan ikhlas adalah riya’, yaitu melakukan amal ibadah karena tujuan ingin dilihat orang.
Dalam organisasi makna ikhlas adalah melakukan kewajiban dengan sekuat tenaga dan usaha terbaik dengan niat bersih. Beberapa penghasilan yang didapat dari organisasi. Orang yang ikhlas adalah orang yang melaksanakan kewajiban secara maksimal. Atau dengan kata lain,pegawai itu melaksanakan pekerjaannya dengan sebaik-baiknya, dengan atau tanpa diawasi atasannya. Etos kerja seorang muslim yang dikemukakan oleh Hafifuddin adalah sebagai berikut:
a.    Al-Ahslah atau baik dan bermanfaat
Seorang muslim yang berparagma ikhlas akan memandang bahwa segala perbuatan yang dilakukan adalah untuk beribadah. Bekerja juga merupakan amal saleh jika dikerjakan dengan ikhlas. Seorang muslim yang ikhlas juga akan berusaha untuk menjadi orang yang bisa memberikan manfaat bagi orang lain sebagai bagian dari amal sholeh. Allah berfirman dalam surah an-Nahl 97:” barangsiapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”.
b.    At-Itqan atau kesempurnaan
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Thabrani nabi bersabda:”sesungguhnya Allah sangat mencintai jika seorang melakukan sesuatu pekerjaan yang dilakukannya dengan itqan/sempurna (profesional)”
Dari sabda ini dapat disimpulkan bahwa kesempurnaan adalah salah satu tujuan yang harus jadi prioritas setiap muslim dalam menyelesaikan tugasnya. Keikhlasan seorang muslim dengan demikian bukan berarti dia bisa menjalankan pekerjaannya, atau yang penting jadi.
c.    Al-Ahsan atau melakukan yang terbaik dan lebih baik lagi
Kualitas ikhsan mempunyai dua makna dan pesan, yaitu:
a)    Melakukan yang terbaik dari apa yang dapat dilakukan dengan makna ini pengertiannya sama dengan al-itqan. Pesan yang dikandungnya antara lain agar setiap muslim memiliki komitmen terhadap dirinya untuk berbuat yang terbaik dalam segala hal yang ia kerjakan, apalagi untuk kepentingan umat.
b)   Mempunyai makna yang lebih baik dari prestasi atau kualitas pekerjaan sebelumnya. Makna ini memberikan pesan peningkatan terus-menerus seiring dengan bertambahnya pengetahuan, pengalaman, waktu da sumber daya lainnya.
d.   Al- Mujahadah atau kerja keras dan optimal
Dalam hal kesungguhan ini Allah berfirman:”dan orang-orang yang berijtihad untuk (untuk mencari keridhoan) kami, benar-benar kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami, dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta  orang-orang yang berbuat baik.”(QS. Al-Ankabut:69).
e.    Al-Tanafus dan Ta’awum atau bekerjasama dan tolong menolong
Dalam hal ini Allah berfirman:”dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebijakan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam perbuatan dosa dan pelanggaran dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya”.(QS. Al-maidah:2).
Allah juga berfirman:”dan orang-orang yang beriman, laki-laki, perempuan, sebagian yang lain, mereka menyuruh (menegrjakan) yang ma’ruf, mencegah dari orang munkar,mendirikan shalat, dan menunaikan zakatdan mereka taat pada Allah dan Rasulnya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah: sesungguhnya Allah maha perkasa lagi maha bijkasana”
f.     Mencerminkan nilai waktu
Rasulullah menjelaskan bahwa waktu adalah suatu yang sangat berharga yang diabaikan. Rasulullah memberi contoh sebagaimana beliau menyikapi ketepatan waktu, kemudian diikuti oleh para sahabat beliau. Akhirnya, para sahabat menyadari dan terbiasa menghargai waktu. Dalam hadits riwayat Imam Baihaqi, Rasulullah bersabda:”siapkanlah lima sebelum datangnya lima. Masa hidupmu sebelum datangnya matimu, masa sehatmu sebelum datang sakitmu, masa sesunggumu sebelum datang masa masa sibukmu, masa mudamu sebelum datang masa tuamu, dan masa kayamu sebelum datang masa miskinmu”. (HR.Baihaqi dari Ibu Abbas).
Selain membentuk etos kerja, sifat ikhlas juga akan menghindarkan seorang dari sifat tamak dan kikir, karena seorang berpandangan hidup ikhlas hatinya tidak akan terpaut dengan harta atau kekayaan. Seperti penipuan dan riba, yang keduanya dikutuk oleh Allah.
2.    Amanah
Nilai sentral dalam membangun budaya organisasi adalah konsep amanah. Amanah merupakan sikap tanggungjawab terhadap tugas yang diberikan, atau dengan kata lain ia menginginkan memenuhi sesuatu sesuai dengan ketentuan.
Dalam organisasi atau manajemen, konsep manajemen ini sangatlah penting, karena setiap orang yang ada dalam organisasi pada dasarnya adalah memegang tugas dan wewenang menyangkut kinerja organisasi. Sikap amanah akan menjadikan pemegang tanggung jawabdalam organisasi menjalankan tugasnya dengan penuh dedikasi dan tanggung jawab, bahkan Jalaluddin menganggap amanah sebagai basis atau dasar dalam manajemen dasar.
a.    Shiddig atau kejujuran
Dalam organisasi atau dalam ruang sosial apapun kejujuran sikap terpuji mutlak diperlukan. Sesorang muslim yang jujur akan selalu mendasarkan perbuatan pada ajaran islam. Tidak ada kontradiksi antara ucapan dan perbuatan. Karena itu Allah senantiasa memerintah kita untuk selalu bersama orang yang benar (jujur). Allah berfirman:”hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar”.(QS. At-taubat:119).
Dalam dunia kerja, kejujuran di tampilkan dalam bentuk kesungguhan dan ketetapan janji, waktu, pelaporan, pelayanan, mengakui kekurangan dan kelemahan (tidak menutup-nutupi) serta menjauhkan diri dari perbuatan bohong dan menuju baik pada teman sejawat atau atasan.
b.    Fathanah
Berarti mengerti, memahami dan menghayati segala hal yang menyangkut tugas dan pekerja atau karyawan harus tahu persis apa tugas dan kewajiban. Lebih lanjut sifat ini akan menimbulkan kreatifitas dan inovasi hanya mungkin dimiliki ketika seorang selalu berusaha menambah berbagai macam ilmu pengetahuan, peraturan dan informasi baik yang berhubungan dengan pekerjaan maupun perusahaan secara umum.
3.    Jamaah atau kolektivitas
islam adalah agama jamaah yang lebih mementingkan kebersamaan daripada kesendirian atau individualisme. Dari ibadah hingga muamalah dari sholat murni hingga ibadah social menegaskan karakter dan watak kolektivitas Islam. Secara sederhana sholat berjamaah nilai pahalanya lebih tinggi daripada shalat sendirian dan Allah sangat menyukai barisan pejuang terorganisir secara rapi, Allah berfirman:”sesungguhnya Allah menyukai orang berperang dijalannya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti sesuatu bangunan yang tersusun kokoh”.(QS. Al-Shaf:4)
Dalam konteks organisasi, budaya kolektif atau budaya jama’ah yang menjadi karakter Islam ini dapat diimplementasikan dalam bentuk solidaritas antar anggota organisasi atau antara karyawan.
Jika budaya kolektif ini telah terbangun, maka selanjutnya suasana kekeluargaan akan tercipta dengan sendirinya. Hubungan antara bawahan dan atasan, atau karyawan yang satu dengan yang lainnya tidak seperti hubungan formal yang kaku, tapi yang lebih seperti hubungan keluarga yang hangat. Antara satu karyawan dan lainnya dalam suatu organisasi yang diisi oleh orang yang mempunyai kesatuan hati akan menjadi jamaah yang kuat. Bukankah saat kaum muslimin sedang bimbang menghadapi perang Badar Allah berfirman untuk meyakinkan bahwa orang-orang yang satu hati akan menjadi kuat “dan jika mereka bermaksud menipu, maka sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi pelindung). Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongannya dan dengan para mukmin. Walaupun kamu membelanjakan semua kekayaan yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya dia maha bijaksana”.  
dalam konteks organisasi, kesatuan hati ini juga pada gilirannya akan menimbulkan rasa memiliki, sence of belonging, pada diri karyawan. Rasa ikut memiliki inilah yang diperlukan untuk memacu semangat dan prosuktivitas karyawan.
Dalam tataran praktis pembinaan rasa kebenaran dan kekeluargaan dapat dilakukan dengan berbagai cara diantaranya:
a)    Melakukan haququl muslim (hak-hak semua muslim). Dalam hadis hak itu ada lima, yaitu jika berjumpa ucapkan salam, jika diundang datanglah, jika meminta nasehat nasehatilah, jika ia sakit jenguklah dan terakhir jika ia meninggal antar jenazahnya sampai ke kubur.
b)   Melakukan tausyiah atau saling menasehati.
c)    Menghubungkan silaturahmi.
d)   Mengadakan islah atau rekonsiliasi jika suatu ketika terjadi masalah atau retak hubungan.
e)    Ta’awum atau saling bantu dan saling tolong.
f)    Menjauhi akhlak tercela dalam berinteraksi, misalnya menggunjing, mengolok, mengejek, dan lain-lain.

C.  Pengertian Etos Kerja
Etos berarti pandangan hidup yang khas dari suatu golongan sosial. Kata kerja berarti usaha,amal, dan apa yang harus dilakukan (diperbuat).Etos berasal dari bahasa Yunani (etos) yang memberikan arti sikap, kepribadian, watak, karakter, serta keyakinan atas sesuatu. Sikap ini tidak saja dimiliki oleh individu, tetapi juga oleh kelompok bahkan masyarakat . Dalam kamus besar bahasa Indonesia etos kerja adalah semangat kerja yang menjadi ciri khas dan keyakinan seseorang atau suatu kelompok.Kerja dalam arti pengertian luas adalah semua bentuk usaha yang dilakukan manusia, baik dalam hal materi, intelektual dan fisik, maupun hal-hal yang berkaitan dengan keduniaan maupun keakhiratan. berdasarkan pengertian tersebut dapat dipahamkan bahwa semua usaha manusia baik yang dilakukan oleh akal, perasaan, maupun perbuatan adalah termasuk ke dalam kerja. Contohnya, beribadah, berdoa, belajar, berolah raga, bekerja, bertani, dan berdagang.
Adapun pengertian kerja secara khusus, yakni yang biasa dipakai dalam dunia ketenagakerjaan dewasa ini, adalah setiap potensi yang dikeluarkan manusia untuk memenuhi tuntutan hidupnya, berupa makanan, pakaian tempat tinggal, dan peningkatan taraf hidup. Dari pengertian kerja khusus tersebut, yang dimaksud dengan kerja hanyalah usaha-usaha untuk kepentingan duniawi semata.Contohnya bertani, berdagang, dan mengolah kekayaan alam.
Dalam bahasa Arab, kerja disebut amila. Menurut Dr. Abdul Aziz, di dalam kitab suci Alquran terdapat 620 kata’amila (kerja) dengan segala bentuknya (menurut Ilmu Bahasa Arab). Hal itu menunjukkan bahwa masalah “kerja” harus mendapat perhatian yang sungguh-sungguh dari setiap umat manusia, khususnya umat Islam.
Selain itu, di dalam Alquran kata amila(kerja) sering didahului dengan kata’amanuu atau ‘amanuu (beriman). Ini menunjukkan bahwa seseorang yang beriman (mukmin) harus membuktikan imannya dengan amal (kerja), yakni perbuatan-perbuatan yang baik yang diridai Allah.Allah swr berfirman yang berarti, “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi.”(Q.S.An Nur,24 : 55)
D.  Hakekat Etos Kerja dalam Islam
Ethos berasal dari bahasa Yunani yang berarti sikap, kepribadian, watak, karakter serta keyakinan atas sesuatu. Sikap ini tidak saja dimiliki oleh individu, tetapi juga oleh kelompok bahkan masyarakat. Ethos dibentuk oleh berbagai kebiasaan, pengaruh, budaya serta sistem nilai yang diyakininya. Dari kata etos ini dikenal pula kata etika yang hamper mendekati pada pengertian akhlak atau nilai-nilai yang berkaitan dengan baik buruk moral sehingga dalam etos tersebut terkandung gairah atau semangat yang amat kuat untuk mengerjakan sesuati secara optimal lebih baik dan bahkan berupaya untuk mencapai kualitas kerja yang sesempurna mungkin. Dalam al-Qur’an dikenal kata itqon yang berarti proses pekerjaan yang sungguhsungguh, akurat dan sempurna. (An-Naml : 88). Etos kerja seorang muslim adalah semangat untuk menapaki jalan lurus, dalam hal mengambil keputusan pun, para pemimpin harus memegang amanah terutama para hakim. Hakim berlandaskan pada etos jalan lurus tersebut sebagaimana Dawud ketika ia diminta untuk memutuskan perkara yang adil dan harus didasarkan pada nilai-nilai kebenaran, maka berilah keputusan (hukumlah) di antara kami dengan adil dan janganlah kamu menyimpang dari kebenaran dan tunjuklah (pimpinlah) kami ke jalan yang lurus (QS. Ash Shaad : 22).
E.   Etika Kerja dalam Islam
Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah mencintai salah seorang diantara kamu yang melakukan pekerjaan dengan itqon (tekun, rapi dan teliti).” (HR. al-Baihaki) Dalam memilih seseorang ketika akan diserahkan tugas, rasulullah melakukannya dengan selektif. Diantaranya dilihat dari segi keahlian, keutamaan (iman) dan kedalaman ilmunya. Beliau senantiasa mengajak mereka agar itqon dalam bekerja. Sebagaimana dalam awal tulisan ini dikatakan bahwa banyak ayat al-Qur’an menyatakan kata-kata iman yang diikuti oleh amal saleh yang orientasinya kerja dengan muatan ketaqwaan. Penggunaan istilah perniagaan, pertanian, hutang untuk mengungkapkan secara ukhrawi menunjukkan bagaimana kerja sebagai amal saleh diangkatkan oleh Islam pada kedudukan terhormat. Pandangan Islam tentang pekerjaan perlu kiranya diperjelas dengan usaha sedalamdalamnya. Sabda Nabi SAW yang amat terkenal bahwa nilai-nilai suatu bentuk kerja tergantung pada niat pelakunya. Dalam sebuah hadits diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Rasulullah bersabda bahwa “sesungguhnya (nilai) pekerjaan itu tergantung pada apa yang diniatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Tinggi rendahnya nilai kerja itu diperoleh seseorang tergantung dari tinggi rendahnya niat. Niat juga merupakan dorongan batin bagi seseorang untuk mengerjakan atau tidak mengerjakan sesuatu. Nilai suatu pekerjaan tergantung kepada niat pelakunya yang tergambar pada firman Allah SWT agar kita tidak membatalkan sedekah (amal kebajikan) dan menyebutnyebutnya sehingga mengakibatkan penerima merasa tersakiti hatinya. “ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya Karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian…” (al-Baqarah : 264) Keterkaitan ayat-ayat di atas memberikan pengertian bahwa taqwa merupakan dasar utama kerja, apapun bentuk dan jenis pekerjaan, maka taqwa merupakan petunjuknya. Memisahkan antara taqwa dengan iman berarti mengucilkan Islam dan aspek kehidupan dan membiarkan kerja berjalan pada wilayah kemashlahatannya sendiri. Bukan kaitannya dalam pembangunan individu, kepatuhan kepada Allah SWT serta pengembangan umat manusia. Perlu kiranya dijelaskan disini bahwa kerja mempunyai etika yang harus selalu diikut sertakan didalamnya, oleh karenanya kerja merupakan bukti adanya iman dan barometer bagi pahala dan siksa. Hendaknya setiap pekerjaan disampung mempunyai tujuan akhir berupa upah atau imbalan, namun harus mempunyai tujuan utama, yaitu memperoleh keridhaan Allah SWT. Prinsip inilah yang harus dipegang teguh oleh umat Islam sehingga hasil pekerjaan mereka bermutu dan monumental sepanjang zaman. Jika bekerja menuntut adanya sikap baik budi, jujur dan amanah, kesesuaian upah serta tidak diperbolehkan menipu, merampas, mengabaikan sesuatu dan semenamena, pekerjaan harus mempunyai komitmen terhadap agamanya, memiliki motivasi untuk menjalankan seperti bersungguh-sungguh dalam bekerja dan selalu memperbaiki muamalahnya. Disamping itu mereka harus mengembangkan etika yang berhubungan dengan masalah kerja menjadi suatu tradisi kerja didasarkan pada prinsip-prinsip Islam. Adapun hal-hal yang penting tentang etika kerja yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut:
1.    Adanya keterkaitan individu terhadap Allah, kesadaran bahwa Allah melihat, mengontrol dalam kondisi apapun dan akan menghisab seluruh amal perbuatan secara adil kelak di akhirat. Kesadaran inilah yang menuntut individu untuk bersikap cermat dan bersungguh-sungguh dalam bekerja, berusaha keras memperoleh keridhaan Allah dan mempunyai hubungan baik dengan relasinya. Dalam sebuah hadis rasulullah bersabda, “sebaik-baiknya pekerjaan adalah usaha seorang pekerja yang dilakukannya secara tulus.” (HR Hambali).
2.    Berusaha dengan cara yang halal dalam seluruh jenis pekerjaan. Firman Allah SWT: “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.” (al-Baqarah: 172).
a.    Dilarang memaksakan seseorang, alat-alat produksi atau binatang dalam bekerja, semua harus dipekerjakan secara professional dan wajar.
b.    Islam tidak membolehkan pekerjaan yang mendurhakai Allah yang ada kaitannya dengan minuman keras, riba dan hal-hal lain yang diharamkan Allah.
Professionalisme yaitu kemampuan untuk memahami dan melakukan pekerjaan sesuai dengan prinsip-prinsip keahlian. Pekerja tidak cukup hanya memegang teguh sifat amanah, kuat dan kreatif serta bertaqwa tetapi dia juga mengerti dan benar-benar menguasai pekerjaannya. Tanpa professionalisme suatu pekerjaan akan mengalami kerusakan dan kebangkrutan juga menyebabkan menurunnya produktivitas bahkan sampai kepada kesemrautan manajemen serta kerusakan alat-alat produksi. 
KESIMPULAN
Islam sebagai agama dan sumber etika telah menyumbangkan berbagai macam konsep mengenai berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam organisasi. Budaya organisasi yang merupakan implementasi dari nilai-nilai yang dianut oleh orang-orang dari suatu organisasi juga dapat dibangun dengan menggunakan nilai-nilai Islam. Seperti halnya konsep ikhlas, amanah, dan jama’ah, ketiganya bersumber dari ajaran islam. Namun tidak banyak organisasi di negeri ini yang menggunakannya, malah dalam prakteknya beberapa nilai tersebut telah dipraktekkan oleh organisasi di luar islam.
Nilai-nilai luhur terkandung dalam ajaran islam tersebut memang tidak seharusnya hanya menjadi hiasan dalam kajian-kajian ilmiah atau bumbu dalam retorika-retorika para dai dan pejabat. Namun ironis, umat islam di negeri ini banyak yang menganggap nilai-nilai islam hanya sebatas ilmu, diketahui tetapi tidak dijalankan dengan baik.
Dalam kehidupan berorganisasi, konsep-konsep dan nilai-nilai yang bersumber dari agama, utamanya Islam juga masih ditanggapi sebelah mata. Tak banyak organisasi yang para pendiri dan pengolahnya beragama islam, memahami apalagi mempraktekkan nilai-nilai islam dalam menjalankan roda organisasi.
Namun kecenderungan studi para intelektual islam belakangan ini cukup mengembirakan. Nilai-nilai islam sudah mulai muncul sebagai alternative perspektif dalam melihat organisasi, atau minimal sebagai konsep pembanding dari konsep organisasi yang bersumber dari budaya Eropa atau Barat. Organisasi yang dengan terang-terangan menyatakan dan mempraktekkan budaya organisasi berdasarkan nilai-nilai islam juga ada, misalnya Bank Mandiri Syariah dengan budaya sifatnya siddig, istighomah, amanah, fathonah, dan tabligh. Alhasil konsep-konsep tradisi seputar organisasi dan segala macam turunannya hanya akan menjadi kajian di lembaga pendidikan, tanpa menemukan bentuk konkritnya dalam realitas, jika kita para pelaku organisasi tidak mau mengamalkannya.














DAFTAR PUSTAKA
Husni,Muhammad.2014.Membangun Budaya Organisasi Dalam Perspektif Nilai-Nilai Islam.98-113.
Hasan,Fikri Putra.2013.Konsep Budaya Organisasi Secara Islami. https://fikrimochammad.wordpress.com/2012/12/11/konsep-budaya-organisasi-secara-islami.3 April.
Anonim.1997. Konsep dan etika kerja dalam Islam. Jakarta:Almadani.

Anonim.1990.Mengangkat Kualitas Hidup Umat. Jakarta: Dirjen BIMAS Islam.

Tasmara,Toto.2008.Membudayakan Etos Kerja. Jakarta:Gema Insani.

Mizan.1998.Wawasan al-Qur’an. Jakarta: Quraish Shihab.




[12] KH. Toto Tasmara, Membudayakan Etos Kerja, Gema Insani : Jakarta, 2008, h. 43

[13]  Mizan, Wawasan al-Qur’an, Quraish Shihab : Jakarta, 1998
Disusun oleh:
Dela Safitri
Rospita Rahayu

Budaya Organisasi Bisnis Dalam Islam Dan Etos Kerja

A.   Budaya Organisasi Bisnis Dalam Islam Organisasi menurut Ernest Dale: suatu proses perencanaan yang meliputi penyusunan, pengembanga...